Rabu, 13 Juni 2018

Review Game Little Nightmares : Secrets of The Maw


Plot
Seperti yang dilakukan PlayDead dengan LIMBO dan INSIDE, Little Nightmares juga tidak mempresentasikan cerita utama secara eksplisit, layaknya game-game modern pada umumnya. Bahwa tak seperti game yang biasanya memulai awal gameplay dengan membangun latar belakang cerita, karakter, dan sejenisnya, Kita akan langsung disuguhi dengan kontrol atas seorang anak perempuan kecil dengan jas hujan berwarna kuningnya yang terlihat begitu cerah dan terang, apalagi di tengah dunia yang kelam dan gelap.

Lewat deskripsi langsung dari Tarsier Studios lah, kita bisa mendapatkan sedikit gambaran apa yang sebenarnya tengah terjadi. Little Nightmares menceritakan tentang seorang gadis kecil bernama Six yang terjebak di sebuah dunia misterius bernama The Maw. Di dalam dunia ini, segala sesuatunya berukuran raksasa dan dipenuhi oleh makhluk-makhluk berbentuk menyeramkan. Six pun harus berjuang keluar dari The Maw sambil berusaha menghindari makhluk-makhluk menyeramkan tersebut.


Memang ketika Anda memainkannya sendiri dari awal, Anda akan dibuat bingung dengan maksud dan tujuan dari Game ini selain melarikan diri dari para monster. Namun kita akan dibuat makin terkejut dan bingung ketika mengetahui endingnya, kita bisa melihat proses berkembangnya pengkarakteran dari si karakter utama yang awalnya makan roti buangan sampai pada akhirnya memakan Boss Monster.


Gameplay
Mengusung gameplay platformer, pada dasarnya Six hanya bisa bergerak ke kanan atau ke kiri layar permainan. Dunia tiga dimensi memungkinkannya bergerak lebih dinamis. Ini juga memungkinkan puzzle bersembunyi di tempat yang tidak disangka. Semua puzzle cukup menekankan logika, sehingga kita hanya perlu melihat dan memanfaatkan segala benda yang ada di sekitar Six.



Art & Sound
Pilihan untuk menggunakan Unreal Engine 4 sebagai basis untuk Little Nightmares seperti menjadi keputusan yang pantas untuk diacungi jempol. Namun bukan karena sekedar kualitas detail di sisi visualisasi yang membuat game yang satu ini mengagumkan, melainkan kekuatan kreatif pada talenta di belakangnya yang harus diakui, berhasil menciptakan sebuah dunia yang pantas untuk diacungi jempol. The Maw adalah sebuah dunia yang sisi estetikanya siap untuk membuat Anda menahan napas, tetapi di sisi lain, secara konsisten akan membuat bulu kuduk Anda merinding. Semuanya dicapai tanpa menggunakan cara “murahan” seperti jump-scare, misalnya.

Kontras antara sang karakter utama yang diposisikan sebagai anak perempuan yang terlihat polos dan visualisasi The Maw yang terlihat korup dan penuh dosa memperkuat atmosfer yang siap untuk membuat Anda bergidik. Presentasinya The Maw sendiri juga dilakukan dengan eksplisit, tetapi tetap mempertahankan elemen misteri di atasnya. Kita bisa melihat bagaimana mayat yang disinyalir mengakhiri hidupnya tergantung begitu saja di salah satu kamar hingga bagaimana Six harus tenggelam di dalam sebuah “kolam” yang berisikan sepatu-sepatu usang tanpa pemilik yang jumlahnya bisa ribuan. Apa yang terjadi dengan pemilik-pemilik sepatu ini? Game ini tak akan “menjelaskannya” kepada kita begitu saja.


Implementasi Unreal Engine 4 tentu saja membuat beberapa sisi teknis dan detail semakin baik. Tata cahaya yang memesona dan dramatis di beberapa situasi, apalagi mengingat kegelapan yang mendominasi keseluruhan permainan, hingga sekedar efek percikan darah atau anggur yang akan membuat mata kita sulit untuk berpaling. Little Nightmares juga membubuhkan sedikit efek grain untuk membuat situasi terasa lebih mencekam dan ekstra sensasi sinematik di atasnya. Menyamakan sensasi menikmatinya seperti menonton film-film dari Tim Burton memang sebuah perbandingan yang pantas

Gameplay ini semakin lengkap dengan efek suara dan nuansa lingkungan yang cenderung gelap. Efek suara Little Nightmares mampu membuat suasana tempat saya bermain cukup menyeramkan, padahal efek suara ini hanya berupa gesekan objek atau tetesan air. Suasana lingkungan ini juga membuat saya selalu berusaha untuk tidak menciptakan kesalahan apapun, termasuk ketika membuka pintu untuk pindah ke ruangan lainnnya, atau menghindari lintah karena ukurannya yang sama besar dengan Six.
 


Overall
Secara keseluruhan game ini cukup memuaskan, hanya saja waktu permainannya hanya sebentar. Saya menghabiskan waktu tiga hari dimana dalam satu hari saya memainkannya selama 2-3 jam, karena memang game ini hanya memiliki lima chapter (kecuali Anda membeli DLC / download gratisan). Alasannya saya memainkan game ini hingga 3 hari dikarenakan ada momen dimana saya merasa panik dan emosi karena monster yang mengejar dan teka-teki yang agak membingungkan bagi saya. Apalagi musik yang berubah-ubah sesuai momen yang terjadi, seperti saat kita dikejar-kejar monster maka musik akan berputar dengan cepat dan memacu adrenaline, yang membuat saya menjadi panik dan tambah emosi karena gagal melewati rintangannya.


Minggu, 03 Juni 2018

Review Game : Cytus



Musik merupakan bahasa universal yang bisa dimengerti oleh banyak orang. Musik juga menjadi salah satu daya tarik bagi seorang gamers ketika memainkan suatu game. Apa jadinya, apabila game yang memiliki jalan cerita dan gameplay bagus, namun musik yang ditampilkan tidak enak didengar atau tidak sesuai dengan situasi yang sedang berlangsung? Mungkin, game tersebut tidak akan seru untuk dimainkan.

Inilah yang membuat saya menyukai game yang satu ini, Cytus namanya. Cytus, game ber-genre rhythm yang dikembangkan serta diterbitkan oleh Rayark Games untuk perangkat Android, iOS dan PlayStation Vita. Game ini berseting pada masa depan, dimana dunia sudah dikuasai oleh robot. Namun, keberadaan umat manusia masih tetap ada. Melalui musik, para robot itu bisa merasakan emosi dan mimpi yang dimiliki oleh manusia. Agar musik itu tidak menghilang, para robot menyimpannya di menis bernama Cytus.

Berawal dari keinginan saya untuk mencari permainan seperti Guitar Hero yang dulu saya biasa mainkan saat masih menggunakan hp Nokia, saya pun memutuskan untuk mencarinya di Play Store dengan menggunakan smartphone saya. Namun sayang, yang ada hanyalah game tiruan yang sama sekali berbeda dengan yang diharapkan. Hingga suatu hari saya melihat teman saya memainkan permainan ini dan saya pun tertarik untuk mencoba men-download-nya.

Game ini dapat dimainkan secara offline, dikarenakan permainan ini dirilis secara gratis, namun kamu perlu menunggu 30 detik untuk memainkan suatu lagu. Untuk terhitung dalam program Million Download Plan, minimal kamu harus membayar – tidak mahal, hanya dua belas ribu saja – untuk membuang waktu tunggu tersebut. Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk mendownload dan memainkannya.


Tidak seperti game rhythm lain yang bisa dibilang tidak memiliki jalan cerita, Cytus memiliki plot khusus yang membuat para pemainnya membayang-bayangkan apa yang sedang terjadi di dalamnya. Rayark pandai dalam membuat plot yang tidak terlalu gamblang, sehingga memberi kesempatan pada para pemain Cytus, termasuk saya, untuk mengimajinasikan ending versi saya sendiri.

Kisahnya sendiri memuat masa depan cyberpunk di mana manusia telah musnah akibat virus mutan, digantikan oleh para robot yang diinjeksi ingatan manusia. Agar robot-robot dengan ingatan manusia – termasuk Vanessa, sang protagonis – tetap bisa mengenal kemanusiaan, emosi-emosi yang dirasakan manusia disimpan dalam bentuk musik, yakni Cytus itu sendiri. Memainkan Cytus berarti membangkitkan kembali apa yang pernah dirasakan manusia – dan benar pula, musik merupakan salah satu ekspresi kemanusiaan, bukan?

Gameplay Cytus sendiri dimuat dalam desain Active Line Scan, yakni seutas garis hitam yang akan bergerak naik dan turun di dalam layar. Saat ia melalui bulatan-bulatan not – yang seirama dengan musik yang dimainkan – kamu dapat memencet bulatan-bulatan tersebut dengan tempo yang tepat. Jika kamu menyentuh bulatan-bulatan tersebut dengan tepat, kamu akan mendapat Perfect, lalu Good, Bad, dan jika bulatan tersebut terlewati, kamu akan mendapat Miss. Skor minimal untuk menyelesaikan suatu lagu adalah 700.000 (peringkat C), dan skor maksimal yang dapat dicapai adalah 1.000.000 (peringkat Million Master).


Terdapat tiga tipe not dalam setiap lagu yang disediakan game rhythm ini:
  1. Basic Note, yang hanya memerlukan sekali sentuhan
  2. Drag Note, berupa bulatan-bulatan not yang berjejer dalam satu garis, yang dapat disentuh dengan tepat dengan cara drag atau menyeret; dan
  3. Hold Note, berupa bulatan not dengan pita panjang yang mengekor, yang disentuh dengan cara menahan not dengan durasi yang tepat pula.
Mungkin terdengar mudah dan tidak neko-neko, tetapi semakin tinggi tingkat kesulitan suatu lagu, semakin menantang pula permainan Cytus ini.

Cytus terdiri dari lebih dari 100 lagu dari berbagai genre, mulai pop, trance, sampai drum and bass. Terdapat pula lagu alternatif yang tersembunyi, yang menariknya dapat kamu akses dengan berinteraksi dengan background suatu lagu sebelum dipilih untuk dimainkan. Petunjuknya dapat kamu lihat saat memilih chapter, karena di situ ditunjukkan ada berapa lagu yang dimuat dalam satu chapter. Terdapat pula lagu-lagu utama bertajuk “Alive” yang berisi plot utama kisah Vanessa. Kamu mungkin tidak menyadarinya, tetapi dengan memencet bulatan hijau atau merah saat memilih chapter, kamu dapat mengakses lagu-lagu utama tersebut.